:: pages

Blog ini sudah tidak aktif, silakan kunjungi website ini.
Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Thursday, May 23, 2013

Trading is Not a Puzzle



Trading itu tidak seperti menyelesaikan puzzle dimana setiap kepingnya akan menempati posisinya masing-masing sehingga akan terbentuk sebuah gambar yang sempurna... atau mengisi teka-teki silang dimana semua pertanyaan akan terjawab dan tidak ada lagi kotak-kotak jawaban yang kosong. Pada saat itu kita tahu bahwa pengerjaan puzzle ataupun teka-teki silang sudah selesai. Sempurna! Perfect!

Dunia trading tidak mengenal kata "Perfect". Karena nilai sebuah keberhasilan trading tidak dilihat dari prestasi atas sebuah performance tanpa cela alias zero-loss, tapi keuntungan berkesinambungan dari waktu ke waktu...

Tuesday, April 2, 2013

Kejarlah Daku, Kau Kutinggal...


Trading itu jangan kayak supir angkot ngejar setoran, karena kalau angkot ngejar setoran akibatnya jadi grusak-grusuk, gak sabaran, terus... dinaikkinnya juga jadi gak enak, karena tiba-tiba ngebut karena takut penumpang di depan diambil angkot lain, tapi bisa juga tiba-tiba ngerem mendadak karena liat ada calon penumpang yang tiba-tiba melambaikan tangannya... Belum lagi kalau pas kena macet, karena gak sabaran akhirnya penumpang disuruh turun dan dia puter balik... itu juga muter seenaknya...

Gitu juga dengan trading, jangan begitu liat harga naik langsung Buy... begitu ternyata harga turun.. panik, buru-buru di-closed... terus langsung open Sell... ternyata harga balik naik lagi... panik lagi... di-closed lagi... loss lagi...

Karena ngrasa salah melulu di pair A, coba pindah ke pair B dengan hasil sama saja.... Sampai di sini biasanya emosi mulai naik...

Akhirnya pindah ke pair C. Karena udah loss banyak dan emosi udah ikut campur... akhirnya OP berdasarkan dendam, pingin buru-buru balikkin duit yang udah loss... biar cepet balik, lot di-double... Analisa udah semakin kacau, udah gak peduli lagi yang namanya trend, retracement, ranging... pokoknya kemana arah harga bergerak dikejar, tapi seperti yang udah-udah... akhirnya malah ditinggal harga berbalik arah... di Buy... turun, di Sell malah naik...

Trading itu...... mending seperti supir taxi dengan trayek Airport... Nggak capek, nggak stress, nggak grusak-grusuk, berangkat tinggal nunggu giliran, trayek jelas, pemasukkanpun lebih gampang ngukurnya...

Enjoy the ride...


Monday, April 1, 2013

Respect the Ocean, Respect the Market


Market itu seperti lautan, bergerak terus setiap hari sepanjang waktu... dari gelombang kecil, sedang sampai gelombang besar. Sebesar apapun gelombangnya, laut tidak diciptakan untuk membahayakan kita jika kita mau dan mampu untuk "memahami dan menghormati" lautan sebagaimana diciptakan.

Hanya orang yang memahami dan menghormati yang bisa menikmati gelombang lautan.

Bersahabatlah dengan market, maka anda akan dapat menikmati gelombang naik turunnya harga.

Enjoy the ride... and make money out of it!

Saturday, March 30, 2013

Reversal



Reversal itu ibarat kita sedang berkendara, sama dengan putar balik atau dikenal juga dalam bahasa Inggris dengan kata U-Turn dimana jarak atau haluan yang kita ambil pada saat berbelok tergantung dari besar kecilnya kendaraan yang kita gunakan, mengingat U-Turn ini membalikkan arah kendaraan kita 180 derajat.

Kita akan dengan mudah melakukan putar balik jika kita menggunakan sepeda ataupun motor, tapi tidak dengan mobil apalagi dengan menggunakan truk ataupun bis! Semakin besar kendaraan yang kita gunakan maka akan semakin besar haluan yang kita butuhkan yang berarti akan membutuhkan space atau area yang lebih luas. Karena semakin besar kendaraan berarti semakin besar pula tingkat kesulitannya, maka waktu yang dibutuhkan pun juga lebih lama.

Begitu juga dalam dunia trading. Banyak yang melakukan open position berlawanan dengan trend karena menganggap bahwa trend sudah berakhir dan saatnya untuk reversal, akibatnya banyak posisi yang terseret-seret oleh pergerakan harga karena melawan trend. Celakanya lagi... banyak yang melihat ataupun menganggap reversal terjadi di time frame kecil (15M - 4H).

Reversal atau perubahan trend tidak terjadi dalam hitungan menit ataupun jam.... tapi bisa membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Reversal yang terjadi di time frame kecil terutama 15M - 1H bisa jadi hanya merupakan retracement dari major trend yang sedang berlangsung.

Jadi... jika anda trading menggunakan time frame kecil dan berpikir untuk melakukan open position berlawanan dengan arah trend karena menganggap trend sudah berakhir... maka ingatlah bahwa perubahan trend tidak terjadi dalam hitungan menit ataupun jam... lihatlah di time frame yang lebih besar (minimal Daily), anda akan melihat betapa alot, susah dan lamanya sebuah trend berakhir... sama halnya dengan sebuah truk ataupun bis yang akan berputar balik...



Wednesday, February 13, 2013

Slow and Steady Wins the Race


One thing I firmly believe in is that Forex trading success is largely a result of the quality of the trades you take…not the quantity of trades you take. By simply reducing the frequency with which you trade, you will simultaneously improve your odds of succeeding over the long-term. You need to understand and accept the fact that 2 or 3 quality trades a month is going to put you much further ahead than 20 or 30 emotion-fueled impulse trades a month…no matter how good it makes you feel to take them.

Remember, the tortoise won the fabled race because he was slow and consistent, instead of fast and full of emotion like the hare…

Source

Tuesday, February 5, 2013

An Inspiring Story - The Story about Little Johnny

 

Little Johnny is always being teased by the other neighborhood boys for being stupid. Their favorite joke is to offer Johnny his choice between a nickel and a dime -- Little Johnny always takes the nickel.

One day, after Johnny takes the nickel, a neighbor man takes him aside and says, "Johnny, those boys are making fun of you. Don't you know that a dime is worth more than a nickel, even though the nickel's bigger?"
 

Johnny grins and says, "Well, if I took the dime, they'd stop doing it, and so far I've made $20!"

Source

Tuesday, September 11, 2012

An Inspiring Story - Trading Should be as Simple as It Is

Dr Joe arrived at the pit before opening time and saw all the floor traders congregated together in a meeting. He saw this as strange as he thought they were out and out competitors with each other.

What he saw in the first 15 to 30 minutes he would never have believed even if his best friend had told him. At the open, the overnight trades, which were long positions, were put through but he detected the traders entering them were giving signals to the other traders. After the orders were put through there was “nothing” – they just waited to see how the market reacted to those orders.

He then observed what he thought were illegal practices but later learned it to be what actually goes on each and every day. During this “dead” time, the floor traders were reviewing their orders in the pipeline and then on a given signal, a group started selling followed by another group. Then when a certain lower price had been reached, another signal was given and the same groups then bought back amongst themselves. He later learned this was called “Running the Stops” and what they had done was found out where all the orders were, which were below lows, swing lows and elsewhere, and just driven the price down to fill them and take them out so that they had a clean order sheet! Not satisfied with that, they then collectively took the price back to where it opened!

After this and now with the market moving, orders started to come in and when a large order came in from a bank, fund or other large institution, the trader with the order gave a signal before entering it. After entering it, the traders went quiet again. They were looking to see how the market reacted to that order. When they saw more buy orders coming in, they just bought more and more and kept on buying until a signal from a trader that he had a large sell order. Again the sell order was entered and the traders went quiet as they waited for a reaction from the market. He learned that the floor traders were waiting to see whether the sell order was going to be accepted as profit taking or full blown shorting. He said this went on all day long with the floor traders just “piggy-backing” on which ever way the market moved. He said he could see no skills or qualifications (other than being a whore – a very rich whore, he said) whatsoever in what the floor traders did.

On his way back to Houston, he thought about how to use what he witnessed to HIS advantage.

His first action was to throw out all his indicators, forecasts and technical analysis. He told me that there is no analysis, indicator or other program now or in the future, that can analyse or predict human behaviour and specifically, human emotions. He had seen for himself that there was nothing technical or logical in how the floor traders (now better known as Market Movers) traded and therefore any analysis or thinking from “off the floor” was an absolute waste of time.

His second action was how to beat “those whores” on the floor as he called them. He said he thought over just about every scenario imaginable and just as he was running out of ideas, it came to him. If you can’t beat, them join them although as a very devout and God fearing Christian, he didn’t think it was ethical. Unable to find another alternative, he decided he had no options left but to try and do, “off the floor” what they did on the floor.

From this came his very simple method:

Buy when it goes up and sell when it goes down.

He went on to make $millions doing this and I subsequently learned he passed away a very rich and contented man knowing that he had beaten the “whores” at their own game.

I learned all this in a few telephone conversations with him but he lost his patience with me when I still questioned his method. He wouldn’t answer my calls so I reverted back to faxes. Again, I can’t remember it word for word but I sent a simple fax saying:

“How do you know when to stop buying?”

On the same fax was his handwritten reply, “When it stops going up.”

So I wrote on it, “How do you know when it stops going up?”

His handwritten reply, “When it starts going down.”

So I wrote on it, “How do you know when it stops going up and starts going down?”

His handwritten reply, “When people start selling.”

After going round like this in riddles, I pleaded with him to “just give it to me straight”.

He sent a fax saying this would be his last communication with me and that if I didn’t understand how to buy when it goes up and sell when it goes down, I had no business trading.

His final paragraph was one which I ignored, like everything else he told me, until a couple of years ago when I realized what a dumb, stupid, arrogant, stubborn idiot I had been:

He said I would only be wrong twice using his simple method:

“Once when you buy at the top and once when you sell at the bottom.”

I just ignored this as a smart – ass answer but still tried to do what he said. Unfortunately, and as Sod’s law dictates, I tried to do it in a consolidation and lost on every trade which had me buying when I should have been selling etc.

I tried and lost again and then eventually lost my way in the quest for the Holy Grail in Indicator Land.

Now, with all my experience and thousands of lost $ behind me, the light came on!

My understanding of what he was telling me is this:

Buy when prices are moving up. Buy each retrace/dip. Keep buying until the last retrace becomes a trend change which is the one trade you lose on.

Sell when prices are moving down. Sell each retrace/rally. Keep selling until the last retrace becomes a trend change which is the second trade you lose on.

I have not traded like this as I have my own method/style now but on the look backs I have done it works very well. Obviously, the trendier the price, the better it works.

In my later communications with other floor traders, I told them about Dr. Joe and what he told me, and asked them if it was true. As you would expect, each and everyone vehemently rejected it as absolute rubbish.

Sometimes I wonder if old Dr. Joe was smoking something but then when I see those long legged neutral dojis before a significant move, I know he was right.

* Artikel di atas saya copy dari salah satu Forum

Sunday, September 9, 2012

Be Different - Trading Personality

Di dunia bisnis ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk sukses dalam bersaing diantara sekian banyak bisnis yang sudah ada..

1. Be the first
Kita harus mampu menjadi yang pertama dalam menciptakan suatu bisnis yang belum pernah ada sebelumnya, dengan demikian kita berpeluang untuk menjadi trend setter yang sekaligus akan membuka jalan untuk bisnis atau produk kita menjadi yang paling unggul
Contoh: Air mineral AQUA, Teh Botol Sosro

2. Be Better
Jika kita tidak bisa menjadi pelopor, maka kita harus mampu menjadi lebih baik dari semua produk atau bisnis sejenis yang sudah ada dipasaran.
Contoh: Friendster adalah yang pertama, tapi Facebook tampil lebih baik

3. Be Different
Jika tidak bisa menjadi yang pertama dan tidak bisa tampil lebih baik dalam persaingan bisnis, maka kita dituntut untuk mampu berinovasi untuk bisa 'tampil beda'. Tampil beda dalam hal ini bisa beda dalam hal produknya, kemasannya ataupun marketing strategy-nya.
Contoh: Produk Apple (iMac, iPod, iPad, iPhone)

Dalam hal ini saya tidak memfokuskan pada produk yang terbaik, tapi lebih kepada keberhasilan dalam berbisnis itu sendiri. Karena yang 'terbaik' itu relatif.

Sebagai contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari adalah begitu banyaknya tayangan iklan yang memproklamirkan produknya adalah yang pertama...... atau lebih baik...... atau berbeda dengan produk pesaingnya.

Begitu juga didunia trading. Suka atau tidak suka...... trading adalah bisnis, karena dengan memperlakukan trading seperti kita menjalankan bisnis-lah kita akan berhasil. Perlu diingat, bahwa definisi berhasil didunia bisnis tidak melulu tentang besar-kecilnya suatu usaha atau perusahaan, tapi lebih kepada berapa lama bisnis tersebut mampu bertahan, bagaimana usaha tersebut tidak hanya hidup tapi juga mampu menghidupi dan bagaimana bisnis tersebut berdampak kepada masyarakat sekitar ataupun masyarakat luas.

Sebuah kenyataan bahwa banyak perusahaan besar gulung tikar, tapi dilain sisi banyak usaha atau bisnis kecil yang dari 'fisik'nya terlihat seperti "hidup enggan - matipun tak mau", justru mampu bertahan puluhan tahun..! Dari sisi itulah saya menilai berhasil atau tidaknya suatu usaha atau bisnis.

Tapi bukan berarti saya menolak untuk 'menjadi besar'. Semua bergantung kepada kemampuan, yang penting mampu bertahan, mampu bertahan dan terus semakin besar usahanya?! Aamiin..!

Kembali ke 3 point di atas, bagaimana kita menerapkannya didunia trading?

Untuk menjadi yang pertama, jelas gak mungkin.... sudah ada jutaan orang melakukan trading jauh sebelum kita mengenalnya.... sementara untuk menjadi lebih baikpun bukan hal mudah, karena kita berhadapan dengan jutaan orang di hampir seluruh belahan dunia dengan sistem yang sudah teruji dan terbukti...

Lalu bagaimana dengan 'be different'?!
Itulah pilihan terakhir yang bisa kita terapkan untuk berhasil didunia trading.

Jika kita selalu 'mengekor' dengan sistem atau strategi yang sudah ada, bagaimana kita akan tampil beda?!

Setiap manusia adalah unik, mempunyai kesamaan sekaligus perbedaan. Karena by nature atau secara alamiah, kita sudah mempunyai perbedaan... maka seharusnya kita sudah mempunyai modal atau bekal untuk berhasil didunia trading... dengan cara "do it yourway"!

 Di dalam salah satu bukunya, Jared Martinez mengatakan:

- "People trade according to their personalities"

- "If you think your character will not have an effect on your trading outcome, you are grossly mistaken"

- "We bring our characters, our personal traits and habits to the trading table"

Dengan kata lain kenali diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita (mencoba) mengenal market. Coba tanyakan hal-hal di bawah ini kepada diri kita sendiri.

- apa kelebihan kita? dan apa yang menjadi kekurangan kita?
- bagaimana sifat atau karakter kita?
- apakah kita pemarah? penakut? orang yang mudah panik?
- apa hal-hal yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai?
- bagaimana kita menyikapi permasalahan dalam hidup?
- apakah kita orang yang optimistis atau pesimistis?
- bagaimana cara hidup kita?
- bagaimana gaya hidup kita?

dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri.

Setelah kita "menemukan dan mengenal" diri kita sendiri, dari situlah kita mulai membangun sebuah  trading system. Misalnya Time Frame berapa yang sesuai untuk kita gunakan sesuai aktifitas kita sehari-hari? Pair atau produk apa yang sesuai dengan sifat/watak/karakter kita? Tipe trader apakah kita? Seberapa lamakah kita sanggup menahan posisi? Seberapa sabarkah kita untuk menunggu? Dll.

Dengan adanya 'trading personality' ini, kita akan mampu membangun sebuah trading system yang memang kita create untuk diri kita sendiri sesuai dengan sifat/watak/karakter kita... yang artinya kita 'bebas' dalam artian tidak ada belenggu atau hal-hal yang memberatkan kita dalam melakukan trading, karena semua aturan sudah disesuaikan dengan kepribadian kita.... tidak ada lagi ketidak cocokkan, semuanya sudah dibuat berdasarkan apa yang kita suka... dan jelas... system kita tidak akan sama 100% dengan system orang lain (walaupun kadang merupakan adaptasi dari system lain)... yang artinya apa?

Artinya kita tidak perlu bersusah payah menjadi orang lain dengan cara meniru dan menjalankan system mereka.... karena mereka adalah mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sementara kita adalah kita dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan kita...

Saya pribadi percaya bahwa belajar dari kegagalan diri sendiri jauh lebih baik daripada belajar dari keberhasilan orang lain.

Winners don't do different things, they do things differently (Shiv Khera)

Why do we have to step on someone's paths if we can create ones?

Friday, November 11, 2011

FIBONACCI (Part I)

FIBONACCI (Part I)

The Primary Numbers 0.618, 0.786, 1.27, 1.618
The primary Fibonacci numbers are the essential means to accurately
gauge price action and to identify potential trade opportunities. These
numbers are used to determine patterns as harmonic. The primary numbers
consist of: 0.618, 0.786, 1.27, 1.618. These four numbers should become
the basis for identifying any potential trade opportunity. A chart must be
considered harmonic, when price action is observed to reverse off these
numbers in a specific fashion. If price action “bounces” off these numbers,
you should assume that more harmonic action would likely continue.

The most important function of these numbers is that they are an
effective means of quantifying price action. By establishing certain areas to
study, it is possible to determine or “gauge” the state of price action and
define significant trading opportunities. Although price action often
exceeds the exact price level where the harmonic calculation completes, it is
very common for reversals to occur shortly thereafter. Therefore, it is
critical to examine the price action in the entire zone before determining the
validity of a trade. In many cases, the set-up may require several price bars
of consolidation before changing trend direction. In other instances, the
reversal may require only 2 or 3 price bars to completely test the pattern
completion point and validate the new trend. Despite these varied situations,
the focus should still remain on the price zone where the pattern completes.

0.618 Retracement
The 0.618 is an effective Fibonacci ratio that reveals a great deal
about the overall trend of a stock. The 0.618 retracement is the first area to
examine for potential support when price action is declining, and it is the
first area to examine for potential resistance when it is rallying. Channels
that develop with 0.618 retracements offer high probability trade set-ups that
have a low risk. Also, most technicians are aware of the 0.618 - or as they
like to tell the public, a two-thirds retracement. So, when a 0.618 reversal
has occurred, it is my opinion that a greater amount of technical traders
participating in that stock are aware of this price action. Hence, the 0.618
reversal point becomes an even more significant price point.

0.786 Retracement

0.786 is a very significant Fibonacci retracement.
When a stock is declining, it is a critical area for support before retesting the
initial bottom. When a stock is rallying and attempting to retest a recent
high, the retracement can act as significant resistance. The key to gauging
the 0.786 as a potential reversal point is to study the price action at the 0.786
ratio and assess the following move. The price action around the 0.786 can
provide substantial information regarding the potential future of a stock.
Although the 0.786 is relatively unknown in the investment industry, it is an
extremely effective gauge of a stock’s price action.

Saturday, June 27, 2009

Price Movement Range (PMR)

* Click image to enlarge

Dalam waktu beberapa minggu ini, GBP/USD (GU) bergerak dalam range tertentu atau biasa disebut sideways. Kondisi seperti ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi kita, selama kita tahu batasan resistance dan support-nya, terlebih lagi jika harga bergerak dalam range yang cukup besar seperti yang terjadi pada pair GU beberapa minggu ini yaitu sekitar 300-an pips.

Yang pertama harus kita ketahui adalah Price Movement Range (PMR) atau range pergerakan harga itu sendiri (High/Low). Setelah kita tahu kondisi tersebut, buat garis tengah diantara titik High dan Low.

Lalu anda akan lihat 2 area masing-masing di atas dan di bawah garis tengah. Di atas garis tengah merupakan area untuk melakukan sell dan di bawah garis tengah merupakan area untuk melakukan buy.

Open position dapat dilakukan baik secara manual ataupun melakukan pending order. Target profit juga dapat anda tentukan sesuai penghitungan resistance/support anda (tiap2 orang bisa berbeda) atau anda tentukan (fixed target) misalnya 100 pips per posisi, selama masih dalam area PMR.

Jika harga sudah bergerak di atas garis tengah disaat anda membuka platform trading anda, daripada anda mengejar harga dengan melakukan OP buy, lebih baik anda melakukan OP sell baik secara manual ataupun pending order. Begitu juga sebaliknya.

Trading dengan menggunakan PMR strategi dapat dilakukan dengan menggunakan Time Frame 4H sampai dengan 15M sesuai dengan trading style anda. Gambar sengaja saya gunakan time frame 4H agar dapat terlihat lebih jelas range pergerakan harganya.

Satu hal yang perlu diingat adalah anda harus mengetahui kapan masa sideways ini berakhir dan terjadi break out, agar anda tidak terjebak dalam posisi berlawanan dengan arah pergerakan harga.

It's fun, ain't it?

Saturday, June 6, 2009

Naik atau Turun?

Naik atau turun? Pertanyaan klasik yang sangat simple sebenarnya...

Tapi kenapa begitu sulit untuk dijawab?

Kesulitan dalam menjawab tidak hanya terletak pada ketidak pastian naik atau turunnya harga sebuah pasangan mata uang (walaupun akan lebih mudah jika kita melihat/menggunakan time frame besar), tapi pertanyaan tersebut sangat subyektif, baik bagi si penanya maupun bagi yang akan menjawab.

Let's see...

Jika harga dikatakan naik, ukurannya apa? Apakah sebuah candlestick berwarna putih (paltform Marketiva) di time frame 1H mengindikasikan bahwa katakanlah GBP/USD akan naik?! Dalam waktu 1-3 jam kedepan mungkin iya... Tapi bukankah harga bergerak terus selama 24 jam dalam 5 hari dalam seminggu?!

Jika pertanyaannya sekedar atau se-simple "naik atau turun"? Maka setiap orang akan dengan mudah menjawab sesuai dengan persepsi masing2 berdasarkan indikator/trend/candlestick yang ada di chart dengan time frame yang berbeda-beda.

Bagi yang menggunakan TF 1H akan mengatakan "harga naik", sementara yang menggunakan TF 4H mungkin menjawab "belum tahu, masih wait and see", lain lagi dengan yang menggunakan TF Daily atau bahkan Weekly, dengan yakin mereka akan menjawab "harga akan turun".

Jawaban yang berbeda-beda tersebut pasti akan membuat orang yang bertanya semakin kebingungan... (emang enak?!)

Hari Jumat lalu (05/06) sekitar jam 8 pagi seseorang bertanya kepada saya, "GU naik atau turun?" Dalam sepersekian detik saya bingung untuk menjawab, takut beda persepsi... Lalu saya tanya balik,"tergantung dari berapa lama anda akan hold posisi anda?!" Lalu dia jawab "kurang lebih sampai jam 3 sore". Ok, setidaknya saya sudah punya gambaran, berdasarkan TF berapa saya harus menjawab. Lalu saya katakan,"GU akan turun"... dan alhamdulilah bener.... hahaha... Kalau salah bisa jadi kambing hitam dan target hujatan massa lagi deh.... =))

Masalah ini sudah menjadi masalah yang sangat klasik, dan sudah pernah saya tulis dalam artikel Swinger, Day-trader atau Scalper?

Kalau anda serius ingin menjadi seorang trader dan berharap (pada akhirnya) trading menjadi sumber keuangan anda (baik itu bersifat investasi jangka panjang ataupun pendapatan bulanan), anda tidak bisa hanya bermodalkan simple question "naik atau turun?"

Lebih baik anda bermodalkan dana sebesar $5 ditambah dengan kemampuan membaca trend/menentukan titik resistance/support (dll.)... daripada anda bermodalkan $10000 ditambah dengan modal pertanyaan "naik atau turun?"
Small fund with greater knowledge is much better
than greater fund with little knowledge

Sebenarnya, untuk menghindari beda persepsi (yang bisa berakibat loss), masalah ini bisa dihindari.

Daripada sekedar menanyakan "naik atau turun?" Akan lebih baik jika pertanyaan tersebut dirubah menjadi "bagaimana saya bisa tahu harga akan naik atau turun?"

Maka jawaban yang ada menjadi sangat simple, yaitu: Observasi.

Saturday, May 23, 2009

The Power of Trend

2-3 hari terakhir banyak gossip yang mengatakan bahwa GBP/USD akan mencapai harga 1.6XXX.

Mengapa hanya berani/bisa mengatakan hal tersebut tanpa memberikan alasan atau analisanya?

Memang, kalau dikatakan bahwa GU akan mencapai level 1.6 sangat masuk akal, tapi kan bukan berarti dalam hitungan menit harga tersebut akan tercapai?! Akibatnya, banyak yang langsung melakukan transaksi buy dengan target profit 1.6XXX.... tapi disaat harga tiba2 turun lagi, langsung panik dan (lagi-lagi) menyalahkan orang yang memberi signal.

Sepertinya banyak yang melupakan teori "pantulan sebuah bola", bahwa untuk mendapatkan pantulan lebih tinggi, kita perlu lebih keras melemparkan bola tersebut ke bawah...

Bisa membaca arah trend pergerakan harga itu bagus! Tapi tahu kekuatan trend akan lebih baik.

No Signal

Beberapa hari terakhir ini, saya mulai coba untuk membagi (sharing) analisa saya mengenai pergerakan pair GBP/USD di chat room Marketiva, dengan tujuan atau harapan dapat mendapat perbandingan ataupun (bahkan) sanggahan dari rekan2 yang lain.

Tapi sayangnya, banyak yang menyalahartikan analisa tersebut dan dianggap sebagai 'signal' untuk membantu mereka dalam menentukan kapan harus melakukan entry/exit maupun target profit.

Lebih parah lagi, dengan kondisi tersebut, mereka semakin menganggap saya adalah master (???) (Asli! Bingung mode: ON)

Dari awal saya trading dan aktif di chat room, saya tidak berani membagi/mendiskusikan analisa saya karena takut salah dan akan menjadi sasaran target empuk untuk dijadikan kambing hitam :S

Alasan saya pada akhirnya memberanikan diri untuk sharing analisa karena saya melihat banyak yang memberikan/menuliskan angka2 sebagai target profit, tapi tidak ada yang berani untuk memberikan analisanya.... Menurut saya itu sangat tidak bertanggung jawab bahkan sangat tidak membantu trader lain untuk sama2 belajar menganalisa pergerakan harga.

Saya sangat setuju dengan pendapat beberapa rekan di room bahwa Marketiva merupakan the best online broker. Salah satu alasannya adalah (setahu saya) Marketiva satu2nya online broker yang menyediakan sarana chat room untuk berdiskusi antara sesama trader. Lalu, kenapa tidak kita manfaatkan fasilitas tersebut sebaik2nya?!

Awal saya aktif di chat room, memang sudah banyak 'angka-angka' bertebaran.... Tapi sayangnya (seperti sudah saya katakan di atas), angka2 tersebut hanya dimanfaatkan sebagai "signal mentah yang langsung dimakan tanpa di masak terlebih dahulu". Akibatnya, sering terjadi keributan, padahal menurut saya sebenernya kesalahan bukan terletak pada orang yang memberi 'signal', tapi justru terletak pada orang2 yang hanya mau memanfaatkan angka2 tersebut tanpa mau melakukan crosscheck - double check- and recheck dengan analisanya sendiri .... Dan akhirnyapun semakin jarang yang mendiskusikan hasil analisanya....

Sangat disayangkan....

Ironisnya.... disaat room sepi dari diskusi analisa, banyak yang menanyakan signal....

Perhaps, I'd better shut up before someone blames me for what I said....

Saturday, January 17, 2009

Be Wise, Be Nice

Barusan 'walk around the blogs' dan nemu review atau opini tentang sebuah buku trading forex yang berjudul “Cara Gampang Cari Duit Dari Rumah - Forex Online Trading” terbitan Elex Media Komputindo. Saya juga pernah mengintip isi buku ini di Gramed, tapi gak berminat untuk membeli karena semua isinya sudah pernah saya baca dan pelajari di babypips.com

Di review tersebut, si penulis review menyatakan kekecewaannya terhadap dunia forex dan menganggap bahwa judul buku tersebut menyesatkan. Penulis review juga menceritakan pengalamannya selama terjun di dunia trading forex yang akhirnya end up dengan kegagalan alias hilang modal bahkan sempat pindah broker dan berakhir dengan hasil yang sama. Gagal.

Kalau anda mengikuti perjalanan saya dalam belajar trading (forex khususnya) di blog ini, sayapun pernah mengalami hal yang sama, dari satu loss ke loss yang lain. Sampai akhirnya saya menemukan cara trading yang benar (tapi belum tentu yang terbaik) dan merasakan hasilnya, tanpa harus menyalahkan pihak lain.

Kalau kita mengalami kegagalan didunia trading, bukan buku panduannya yang salah, bukan brokernya yang salah, bukan regulasinya yang salah, bukan marketnya yang salah. Tapi kita sendiri yang (masih) salah dalam melakukan analisa dan menentukan waktu untuk open position.

Trading (apapun produknya) memang bukan pekerjaan mudah, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Trading memang bukan buat semua orang, sama halnya dengan tidak semua orang bisa menjadi dokter, insinyur, atau bahkan mencapai S2, S3.

Intinya, semua bisa dicapai asal tekun dan gak pernah menyerah. Quit never win, winners never quit.

Tapi dibalik itu kita juga mesti ingat bahwa jalan hidup tiap2 orang berbeda. Jadi kalau misalnya kita gagal jadi trader, anggap aja memang kita tidak ditakdirkan untuk mencari uang lewat trading.

Sama halnya dengan kegagalan saya didunia Internet Marketing, tapi bukan berarti cari uang didunia Internet Marketing adalah omong kosong. Saya tahu bahwa itu semua benar, dan saya menyikapi kegagalan saya tersebut dengan menganggap "It's just NOT me".

Kalau seseorang gagal menjadi dokter, apakah berarti bukunya yang salah? Dosennya yang salah? Universitasnya yang salah? Atau bahkan ilmu kedokteran itu sendiri yang salah?!

Kesalahan terletak pada "bagaimana kita melihat dan menyikapi suatu kegagalan".

Be wise, be nice.

Saturday, December 6, 2008

Observasi

Seperti trader pemula pada umumnya, awal permulaan saya belajar trading, saya bingung bagaimana caranya menggunakan/membaca indikator. Belajar dari orang lain tidak mudah untuk mencernanya, bagi yang menerangkanpun juga sulit untuk harus menulis panjang lebar setiap kata yang harus dijelaskan (masih untung yang ngajarin sabar kayak Wison ;) :P )

Sering saya temui komentar "gak ngerti, gak mudeng, bingung, capek" disaat mereka dijelaskan tentang cara menggunakan indikator. Semakin bingung yang diajarin, semakin bingung pula yang ngajarin gimana harus jelasinnya.

Untuk mempelajari cara kerja indikator dibutuhkan waktu yang cukup (lumayan) lama, karena kita harus melakukan analisa sejalan dengan pergerakan harga, karena dalam perjalanan harga akan terjadi banyak kondisi yang akan kita temui. Misalnya, harga turun/naik drastis, naik/turun sedikit, masa konsolidasi, retracement, berapa lama masa-masa tersebut berlangsung dan masih banyak lagi kondisi pergerakan harga yang tidak mungkin bisa kita ketahui secara pasti dan langsung. Butuh waktu dan kesabaran.

Tapi sebenarnya ada cara yang dapat mempermudah dan mempercepat proses dalam mempelajari sebuah indikator, bahkan beberapa indikator sekaligus. Yang harus kita lakukan adalah observasi.

- pilih chart sesuai dengan Time Frame yang anda gunakan
- perbesar tampilan (window) chart anda (dengan semua indikator yang sudah anda set up) semaksimal mungkin sehingga tampilan periode atau waktu perjalanan harga bisa lebih lama/panjang
- jika perlu anda dapat melakukan zoom sampai dengan 75%
- click kanan pada mouse anda, lalu copy (untuk platform Marketiva), untuk platform lain bisa menggunakan tombol 'print screen'
- buka software image editing (Photoshop, Paint Brush, dll.)
- open file baru dan paste image yang sudah anda copy
- selanjutnya tinggal anda print out file tersebut

Dengan cara ini akan anda dapatkan perjalanan harga dalam rentang waktu sesuai dengan Time Frame yang anda pilih. Selanjutnya anda tinggal melakukan observasi terhadap cara kerja sebuah indikator (atau lebih).

Apapun kondisi market pada rentang waktu tersebut, anda tinggal melihat "bentuk, arah, jarak" atau apapun sesuai dengan indikator yang anda gunakan. Misalnya, disaat harga naik/turun drastis maka indikator Bollinger Bands akan semakin melebar, kalau indikator MACD sudah crossing maka dapat diartikan sebagai early warning akan pembalikkan arah harga, dan seterusnya sesuai dengan indikator yang anda gunakan.

Dengan cara ini juga anda dapat mempelajari cara kerja indikator dengan lebih efisien dan efektif. Disamping tidak membuat diri anda sendiri repot, juga tidak merepotkan orang lain tentunya :)

Good luck and have fun with your indicators!

Saturday, November 29, 2008

Belajar dari Orang Lain

Trading merupakan satu hal yang tidak mudah, tapi juga bukan berarti mustahil. Selama kita mau belajar, belajar dan terus belajar... maka "impossible is nothing" (pinjem tagline-nya Adidas :P)

Banyak cara untuk belajar trading. Mulai dari baca buku/ebook, artikel, website khusus belajar trading, sampai belajar dari orang lain. Sayangnya banyak yang salah dalam proses belajar terutama belajar dari orang lain.

Sering saya menemukan kondisi seperti:
- Si A sedang menanyakan kepada si B tentang open position (OP) yang si B lakukan, TP berapa, SL berapa, ataupun melakukan pending order di harga berapa
- Si C menanyakan kepada si D tentang system apa yang digunakan, bagaimana cara menggunakan system tersebut
- Si E mengikuti gaya trading si F
- dan masih banyak kondisi lain yang menurut saya (IMHO) hanya buang2 waktu

Satu pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan adalah: "MENGAPA?"

Ya...., si A tidak pernah menanyakan mengapa si B melakukan OP, TP maupun SL di harga tersebut? Si C tidak pernah menanyakan mengapa si D menggunakan sistem yang dia gunakan sekarang? Si E pun tidak pernah menanyakan mengapa si F memilih gaya trading yang dia lakukan?!

Sayapun pernah melakukan itu semua, sampai akhirnya saya menyadari bahwa cara belajar tersebut salah dan tidak menghasilkan apapun kecuali dari satu loss ke loss yang berikutnya. Akhirnya saya merubah cara belajar saya.

1. Tentukan type trader seperti apakah anda
2. Cari trader yang (kira-kira) memiliki gaya trading yang sama (sesuai) dengan anda dan tanyakan indikator berikut parameter yang digunakan (anda harus menanyakan pada orang yang anda yakin bahwa orang tersebut memang pantas sebagai orang untuk belajar tentunya)
3. Lakukan observasi terhadap chart dengan menggunakan indikator yang sudah ada pada Time Frame (TF) yang sesuai dengan cara trading anda.

Dalam proses belajar tentu anda akan melewati masa trial and error. Nah dalam masa2 inilah akan terjadi proses belajar yang sebenar-benarnya karena akan terjadi proses penyesuaian antara indikator yang anda gunakan dengan cara trading anda. Dalam proses ini anda akan memahami fungsi dan cara kerja dari tiap2 indikator yang anda gunakan sekarang. Bahkan tidak tertutup kemungkinan anda akan merubah parameter yang anda dapat dari teman anda, untuk disesuaikan dengan cara trading anda sendiri.

Intinya adalah, tidak mungkin kita menerapkan teori orang lain 100%, pasti akan ada penyesuaian dengan karakter kita, karena kita tidak mungkin menjadi orang lain, justru perbedaan itulah yang membuat kita berhasil dengan cara kita sendiri.

Selama cara anda membaca/menggunakan indikator tersebut menguntungkan anda, kenapa enggak?! Beda bukan berati salah kok?!

Satu hal lagi, yang perlu kita pelajari dari orang lain (selain secara teknis), adalah mind-set atau pola pikir dari orang lain tersebut. Dengan begitu anda akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan2 "mengapa" diatas. Setelah anda menemukan mind-set orang lain, maka andapun dapat menentukan mind-set anda sendiri, mind-set inilah yang akan membuat diri anda menjadi diri sendiri dan tidak akan terpengaruh dengan sinyal2 yang sering bertebaran di forum yang hanya akan membuat anda kehilangan uang anda :(

Winners don't do different things,
they do things different way!

Dedicated and many thanks to Wison

Sunday, November 9, 2008

Gatal

Pernah merasakan gatal-gatal?! Itu lho penyakit yang disebabkan oleh virus yang namanya "greedy". Virus ini biasanya muncul dimusim retracement, terlebih kalau kita nggak tahu berapa lama musim ini akan berlangsung. Virus ini juga muncul disaat lagi "deras-derasnya" hujan turun (kebetulan saat ini emang lagi "musim hujan" :D).

Biasanya kita akan terjangkit virus gatal ini kalau kita terbawa emosi untuk memperoleh pips 'lebih banyak' lagi, itu disebabkan oleh obyektifitas kita yang sudah mulai menurun yang seharusnya menjadi 'antibody' sehingga kita tidak mudah terjangkit virus.

Disaat retracement, kecenderungannya kita akan membuka transaksi baru yang berlawanan dengan arah trend (major), hal ini disebabkan karena kita tidak mau membuang kesempatan untuk memperoleh pips kemanapun harga bergerak. Sebenarnya gak ada yang salah dengan hal tersebut, karena memang naik atau turun kita bisa melakukan transaksi dan mendapatkan profit.

Hal tersebut juga terjadi disaat harga sedang bergerak turun dengan tajam, kecenderungannya kita akan melakukan averaging untuk melipatgandakan pips/profit. Nggak ada salahnya juga....

Lalu mengapa hal ini bisa menjadi hal yang merugikan? Bahkan bisa menjadi penyakit yang sulit untuk disembukan?!

Seperti saya tulis diatas, bahwa hal ini akan merugikan kalau kita kehilangan obyektifitas hanya karena melihat peluang untuk melakukan transaksi baru demi menambah perolehan pips semata.

Obyektifitas (salah satunya) adalah kemampuan untuk menganalisa pergerakan harga secara menyeluruh berdasarkan major trend dan juga indikator2 yang biasa kita gunakan. Bukan hanya pergerakan harga sesaat, yang kadang malah membuat kita tersesat dalam kondisi floating minus.

Kalau misalnya harga sedang dalam kondisi retrace, sejauh mana dan seberapa lama kondisi tersebut berlangsung?

Begitu juga disaat harga sedang bergerak tajam/kuat baik itu up maupun down. Sekuat-kuatnya harga tersebut bergerak (up/down), pergerakan harga tersebut akan berhenti pada posisi harga tertentu dan masuk dalam masa-masa konsolidasi, retrace atau bahkan tidak tertutup kemungkin harga akan mengalami reverse secara mendadak dan mampu merubah arah trend (major trend sekalipun).

Apa yang terjadi jika kita tidak mampu menganalisa pergerakan harga secara obyektif?!

Di-buy harga turun, di-sell harga naik....

Ya... itulah yang akan terjadi.... dan akan berakibat banyaknya floating minus :((

Kalau anda ingin selalu mengikuti kemanapun harga bergerak, pastikan bahwa anda tahu betul titik-titik support dan resistance. Kalau tidak, lebih baik anda melakukan transaksi sesuai dengan arah major trend.

Atau.... penyakit gatal ini akan menjadi penyakit menahun dan akan merugikan anda sampai pada kondisi totally lost...

Sunday, October 12, 2008

Jujur

Jujur, merupakan satu hal yang banyak dilupakan oleh para trader yang masih belajar atau setidaknya yang (merasa) masih belum berhasil didunia trading. Entah karena faktor 'terlalu arogan', belum menyadari betapa pentingnya kejujuran (terutama terhadap diri sendiri) ataupun memang sudah merupakan karakter/watak. Saya gak tahu....

Tapi gak bisa dipungkiri, dalam sebuah proses pembelajaran (dalam hal apapun) kejujuran sangat dibutuhkan dan bersifat mutlak.

Dalam sebuah sebuah proses (dalam hal ini proses belajar trading), tentu akan melewati masa-masa raise and fall, benar dan salah, suka dan duka, profit and loss, fear and greed, dan lain-lain. Nah, dalam masa-masa raise, benar, suka dan profit (masa-masa positif), kebanyakan trader langsung "melambung tinggi" dan mengatakan (baca: menyatakan) bahwa dirinya hebat. Langsung tebar signal bahkan ada yang langsung menawarkan diri menjadi seorang fund manager (OMG!).

Tapi apa yang terjadi disaat masa-masa fall, salah, duka dan loss (masa-masa negatif) datang menghampiri?! Banyak yang langsung menghilang dari peredaran! Banyak yang tidak mau mengakui, menganalisa sekaligus memperbaiki kesalahannya. Lebih parah lagi, tidak jarang yang menyalahkan market, bahkan menganggap bahwa trading adalah hal yang mustahil alias impossible!

Bagi saya, masa-masa negatif tidak kalah pentingnya dengan masa-masa positif. Bahkan masa-masa positif hanya merupakan dampak/akibat/reward dari masa-masa negatif. Sementara masa-masa negatif itu hanya bisa kita lalui kalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri (dalam hal ini, kejujuran saya saya publikasikan melalui blog ini, sehingga apapun yang saya tulis berdasarkan apa yang saya alami, dapat menjadi "sebuah pertanggungjawaban" yang tidak mudah untuk dipungkiri). Itulah tujuan utama saya nge-blog. Bukan untuk pamer disaat memperoleh profit ratusan dollar, tapi juga mau mengakui disaat loss ribuan dollar karena kesalahan bahkan kebodohan saya sendiri.

Lalu, dimana pentingnya sebuah kejujuran?

Jelas sangat penting!

Bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan kita, kalau kita tidak mau mengakui kesalahan tersebut? Bagaimana kita bisa mengetahui kekurangan kita kalau kita merasa lebih (dibandingkan orang lain)? Bagaimana kita bisa menjadi lebih baik kalau kita sudah merasa menjadi yang terbaik?

Jujurlah padaku...., bila kau tak lagi cinta.... (halaah....)

Saturday, October 4, 2008

Trading Tanpa Beban

Jujur aja, setelah setahun terjun ke dunia forex trading, baru seminggu terakhir kemarin bisa merasakan 'trading tanpa beban', rasanya nikmat luar biasa.... :D Gimana gak nikmat? Secara psikologis kita tidak merasakan beban yang selama ini menganggu kehidupan sehari-sehari, hasilnya pips yang saya perolehpun diluar dugaan, +1600an/-170an! Itu semua saya peroleh hanya dalam waktu 5 hari trading :) Memang sih.... hasil tersebut bukan merupakan jaminan bahwa saya akan mendapatkan hasil yang sama diminggu-minggu berikutnya, karena toh semua tidak terlepas dari kondisi market itu sendiri. Tapi yang terpenting bagi saya adalah bukan hasil pips-nya, tapi lebih kepada progres secara psikologis yang sudah saya capai, karena semakin baik dan benar cara trading kita, otomatis hasil pips yang diperoleh akan semakin meningkat, atau setidaknya stabil.

Selama ini, masalah yang paling menganggu saya adalah 'fear of loosing' atau rasa takut akan loss. Hal ini disebabkan oleh money management yang masih belum tepat, dimana masalah ini tanpa saya sadari berdampak pada sisi psikologis, karena pengorbanannya tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh.

Masalah kedua adalah kurangnya rasa percaya diri akan sebuah keputusan yang sudah saya ambil. Hal ini tidak lepas dari masalah pertama diatas.

Masalah ketiga adalah mindset atau pola pikir kita sebelum terjun ke dunia forex trading. Sebelumnya, saya berpikir bagaimana melakukan trading supaya profitable. Dengan kata lain profitnya yang dikejar, dengan 'menghalalkan' segala cara. Akhirnya membuat diri saya menjadi seorang trader yang berambisi (obsessive trader) untuk mendapatkan pips sebanyak-banyaknya. Hal ini mengakibatkan hilangnya obyektifitas kita dalam melihat pergerakan harga dan akhirnya salah dalam menganalisa.

Akhirnya mindset tersebut saya balik, yaitu, bagaimana caranya melakukan trading dengan baik dan benar. Titik. Itu aja.

Lalu, apa yang masuk kriteria 'trading dengan baik dan benar' (setidaknya menurut saya)?
1. Dalam menganalisa kita harus obyektif, tapi dalam mengambil keputusan kita harus tetap subyektif
2. Money management yang tepat. Hal ini sangat subyektif, karena berkaitan erat dengan jumlah dana dan trading style, dimana hal tersebut sangat variatif diantara satu trader dengan lainnya
3. Tidak menjadi obessive trader. Trader yang ter-obsesi biasanya tidak henti-hentinya melakukan transaksi terus menerus demi mengejar target pips. Perlu dicatat bahwa obsessive trader tidak sama dengan scalper.
4. Siapkan mental atau diri anda untuk kalah, tentunya kalah yang masuk akal sesuai dengan perhitungan dalam money management

Sebagai catatan berdasarkan pengalaman saya, untuk menjadi pemenang kita harus punya mental untuk siap kalah, sementara orang yang berambisi untuk (selalu) menang justru akan berakhir dengan kekalahan.

Bukankah itu yang terjadi (dapat kita lihat) di film-film action Hollywood? Dimana seorang bad- guy yang tidak mau dikalahkan justru berakhir dengan kematian, sementara dipihak good-guy yang siap menerima kekalahan justru end up as a winner. Mungkin agak melenceng sedikit, tapi gak ada salahnya kita belajar dari film-film tersebut untuk menjadi seorang pemenang. Karena itu merupakan salah satu moral message yang ingin disampaikan dari film-film tersebut.

Sebagai kesimpulan dari artikel saya kali ini adalah, selama anda masih merasakan beban disaat anda melakukan trading (selama masih ada floating position), berarti masih ada yang salah dengan cara anda ber-trading. Mungkin anda perlu melakukan review dan perbaikan (sebagai persiapan) sebelum anda melakukan transaksi.

Bukankah ujian (disaat kita sekolah/kuliah) akan menjadi beban jika kita tidak melakukan persiapan dengan baik dan benar?!

Saturday, September 27, 2008

Virtual Trading

Virtual Trading atau dikenal juga dengan istilah Demo Account merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh (hampir) semua online broker. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan virtual trading, dimana bagi pemula merupakan kewajiban untuk mengikuti atau melakukan virtual trading sebelum trading dengan melakukan uang sebenarnya (real account). Saya tidak tahu hukum seperti apa yang berlaku, apakah merupakan kewajiban bagi online broker untuk memfasilitasi (calon) nasabahnya dengan virtual trading, atau hanya merupakan fasilitas standard untuk menarik nasabahnya.

Apapun alasannya, tapi yang jelas terdapat satu benang merah, bahwa virtual trading wajib hukumnya bagi pemula.

Sayangnya bagi pemula, banyak yang mengabaikan pentingnya peranan virtual trading sebelum menggunakan real account.

Termasuk diri saya sendiri....

Beberapa alasan standard kenapa pemula cenderung mengabaikan virtual trading:

1. Gak sabar (hehehe.... jujur aja ini termasuk alasan saya), maunya buru2 ngrasain trading dengan real account
2. Gengsi, dalam arti kata kalau pake virtu berarti ketahuan masih nubie alias masih belajar
3. Kepengaruh ama temen

Banyak yang menganggap bahwa trading bo'ongan alias virtual trading "nggak ada emosinya", dalam arti kata mau profit mau loss toh kerugian ataupun keuntungan nggak ada duitnya. Beban yang kita rasakan disaat trading menggunakan virtual jauh berbeda dengan trading menggunakan real account, karena dengan real account, kalau kita loss ya bener-bener duit kita loss alias hilang....

Memang ada benernya juga.

Tapi justru masalah inilah yang ingin saya garis bawahi, bahwa "bukankah trading seharusnya tidak melibatkan emosi kita?!"

Banyak yang menganggap bahwa virtual trading hanya sarana atau cara untuk melatih kita dalam hal-hal yang bersifat teknis, misalnya memilih indikator yang sesuai dengan trading style kita, mempelajari pergerakan harga pair tertentu, latihan trapping, dan hal-hal teknis lainnya.

Tapi jarang (atau mungkin gak ada?) yang memanfaatkan virtual trading untuk membiasakan kita melakukan trading tanpa emosi.

Saya punya seorang teman trader asal UK yang sudah sampai pada level 'trading for a living', dia pernah mengatakan bahwa sebelum dia menjadikan trading sebagai profesi, dia melakukan virtual trading selama 2 tahun!!! Bukan waktu yang sebentar untuk proses pembelajaran, dan tidak kebayang seberapa banyak ilmu yang dia peroleh terutama "ilmu trading tanpa emosi".

Bukankah seorang trader profesional tidak menunjukkan 'apa yang dia rasakan' di raut muka-nya? Fear atau greed, profit atau loss.... apapun itu kondisinya, kita tidak akan tahu apa yang sedang dia alami.

Mungkin 'trading tanpa emosi' itulah ilmu yang sebenarnya paling berharga yang bisa kita peroleh dengan melakukan virtual trading sebelum kita melakukan trading dengan real account.

Sudahkah kita memperoleh ilmu tersebut?!